SANTANA atau Santri Tanggap Bencana adalah unit kegiatan yang dibentuk dengan tujuan merespon kejadian luar biasa atau bencana yang melanda Indonesia dan dunia.

Antara lain pernah menampung pengungsi di musholla pesantren Desa Turi Kec. Turi. Di saat bangunan lain sudah terendam dan hanya musholla tersebut satu-satunya bangunan tinggi tempat mengungsi penduduk dari desa-desa sekitar.

Untuk mengatasi bendungan irigasi yang jebol, Bapak Guru MA. Muchtar sebagai pendiri SANTANA sampai mencungkil dinding rumah beliau sebagai penambal bendungan tersebut agar aliran air tidak semakin membanjiri rumah penduduk.

Setelah itu secara aktif, SANTANA terlibat aksi-aksi humanitarian di berbagai daerah konflik/bencana di Indonesia seperti pengiriman relawan SANTANA ke Halmahera, Sambas, Sampit,  Aceh, Banjarnegara,  Jember,  Ngawi,  Bojonegoro dan Lamongan.

Ibu Guru Hj. Masyrifah, pembina SANTANA yang berkeliling Banda Aceh-Calang-Meulaboh-Nagan Raya saat bencana Tsunami 2004. Nampak beliau memberi souvenir ke perwakilan Marinir di Calang

Selama ini potensi santri di luar kemampuan intelektualnya belum banyak dikembangkan. Alih-alih mendapatkan peluang pekerjaan profit, alumni santri sering merasa kebingungan menerapkan ilmunya ketika lulus dari lembaga pesantren.  Padahal pekerjaan pengabdian telah menunggu seiring kondisi masyarakat yang butuh pelayanan. Salah satunya di saat bencana melanda.

Maka SANTANA lahir sebagai wujud nyata gerakan amal sosial para santri dalam mengamalkan ilmu yang didapat di pesantren. Potensi santri yang unggul dalam kuantitas selayaknya dimanfaatkan untuk pelayanan umat. Terutama aksi humanitarian ketika situasi gawat darurat atau kebencanaan terjadi. Kerja keras dalam semangat karitas, gotong royong, dan orientasi invest akhirat merupakan nilai keunggulan yang dapat memacu etos kerja para santri dalam menolong korban bencana kapan saja dibutuhkan.

SANTANA dapat memberikan layanan kedaruratan bencana dalam bidang-bidang khusus yang dibagi menjadi beberapa tim berikut ini:

1.MediSANTANA
Tim ini memiliki anggota tetap 5 orang yang terdiri dari 1 dokter umum dan 4 perawat (2 laki-laki dan 2 perempuan).  Layanan yang diberikan adalah pertolongan medis gawat darurat, pembagian obat/vitamin dan pencegahan penyakit melalui penyuluhan.  Materi penyuluhan terkait dengan situasi/kondisi kedaruratan seperti kesehatan reproduksi, sanitasi, kebersihan badan, dst.

2. EvakuaSANTANA
Layanan yang diberikan adalah pencarian dan evakuasi korban bencana menuju tempat aman. Selanjutnya tugas tim ini adalah menyediakan shelter seperti tenda, rumah penduduk, balai desa  atau tempat umum  yang dapat digunakan sementara untuk menampung survivor.

3. DistribuSANTANA
Tugas tim ini adalah mendaftar kebutuhan pengungsi, menginvetarisir bantuan yang terkumpul kemudian membagikannya kepada survivor yang membutuhkan.

4. InformaSANTANA
Tim ini bertugas menyediakan informasi detil tentang layanan yang telah, sedang dilaksanakan SANTANA.  Tim ini mengawali tugasnya dengan pemetaan wilayah, data survivor, serta prioritas kebutuhan yang mesti dipenuhi. Informasi ini kemduian diberikan kepada media massa, masyarakat peduli, serta para pihak baik instansi pemerintah maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui kondisi terkini dan membantu situasi bencana/kedaruratan. InformaSANTANA juga bekerjasama dengan lembaga lain mengkampanyekan pendidikan kebencanaan kepada masyaraka

5. LogiSANTANA
Tim ini bertugas menyiapkan kebutuhan relawan SANTANA mulai dari perlengkapan, tempat tinggal, lokasi pendaratan, hingga kebutuhan konsumsi.  Tim ini juga menyediakan transportasi untuk evakuasi serta distribusi bantuan ke survivor.

6. DaiSANTANA
Untuk memulihkan kondisi psikis survivor dari keterpurukan dan trauma, maka tugas tim ini adalah menyelenggarakan kegiatan rapport yang bersifat mengurangi beban, mendidik dan atau menghibur survivor. Kegiatan bisa dikemas dalam bentuk konseling, sekolah gembira, telling story, pengajian, doa bersama, sholat berjamaah, atau  retreat.