Di California, negara bagian USA, ada sebuah jalan yang terkenal. Hollywood Boulevard. Jalan sepanjang 5 km itu, ada trotoar yang dinamai Walk of Fame. Ada 2000 lebih keramik bergambar bintang yang berisi nama artis, politisi, atlet, scientist terkenal. Dipahat tempel di trotoar itu.

Di antara sekian ribu nama, ada satu nama atlet tinju. Muhammad Ali. Diakui sebagai the G.O.A.T dalam dunia tinju. The Greatest Of All Time. Petinju terhebat sepanjang masa. Hebatnya lagi, hanya namanya yang tidak berada di trotoar. Diletakkan di atas, di dinding Dolby Theater.
Atas permintaan Ali sendiri. Dia memuliakan unsur “Muhammad” yang adalah nama Nabi dari agama yang dianutnya, Islam. Pihak Walk of Fame menghormati dan menyetujui alasan Ali yang tidak ingin nama nabinya berada di bawah terinjak kaki manusia.

Suatu hari dalam sebuah talk show TV yang dihadiri ribuan orang, Ali ditanya seorang anak. Apa yang akan dilakukannya setelah pensiun nanti. Selain atlet, Ali dikenal sebagai aktifis yang memperjuangkan hak hak asasi manusia. Dia pernah dipenjara karena menolak kebijakan perang.
Jawaban Ali dimulai dengan bicara tentang umur. Saat itu dia 35 tahun. “Anggaplah saya akan berumur 65 tahun”. Maka waktu yang tersisa 30 tahun. Jika sehari tidur 6 jam, butuh 9 tahun. Untuk perjalanan riwa riwi bekerja, butuh 4 tahun. Nonton tivi, rekreasi dan lainnya perlu 3 tahun.
Secara rinci per jam dihitung total 15-16 tahun tersisa waktu produktif. “What I’m gonna do in the next 16 years? What the best to do? Get ready to meet God”. Menurutnya, hal terbaik yang akan dilakukan dalam sisa usia produktinya adalah; bersiap untuk pertemuan dengan Tuhan. Wow.

Di titik itu saya sepemikiran denganmu, Ali. I’m totally agree with you, brother. Mesti cerdas dalam menejemen waktu. We are not going to live here forever. Seperti kata Ali, di sini hanya beberapa puluh tahun saja. Kita akan pulang. Bertemu Tuhan. To live there forever. Ibarat perantau yang memiliki rencana mudik. Waktu sudah disetting jauh hari. Bekal mesti disiapkan sekurangnya untuk tiket. Sebulan, sepekan, sehari sebelum berangkat fokus menyiapkan dan memastikan bekal untuk beli tiket cukup. Agar bekal tambahan tersedia.

Tiket bis Denpasar Surabaya 200 ribu rupiah. Fulus sejumlah harga tiket itu harus. Toh pemudik selalu menyiapkan bekal lebih. Mana tahu butuh apa apa di jalan. In case, ada keperluan emergency dan sebagainya. Rata rata dua kali lipat dari tiket. Apalagi jika mudiknya lama.

Di planet ini kita hanyalah perantau. Someday kita pasti mudik. Setting waktu mudikmu. Tentu bukan merancang kematian. Itu domain dan hanya Tuhan yang tahu. Tapi seperti kata Ali, “get ready” artinya mempersiapkan sesuatu yang sudah pasti. Kita bisa memakai standar umur Nabi Muhammad. 63 tahun. Jika umur kita saat ini 30 tahun, berarti tersisa waktu 33 tahun. Lalu hitung dengan kalkulasi ala Ali tadi. Berapa saldo waktu yang bisa kita pakai untuk kegiatan produktif. Berburu “tiket” pulang.

Jika Denpasar Surabaya harga tiket standar nya 200 ribu, maka tiket standar muslim syahadat, sholat fardlu, puasa romadhon dan zakat. Ingat, itu baru tiket wajib. Lebih amannya, siapkan pula backup budget dengan ibadah ibadah sunnah. Kebaikan sukarela di luar yang wajib.
Yang wajib romadhon, yang sunnah puasa Senin Kamis. Yang wajib sholat lima waktu, yang sunnah tahajud dan dluha. Yang wajib membayar zakat, yang sunnah sedekah lebih giat. Yang wajib haji, yang sunnah silaturrahmi pada kaum fakir sambil berbagi.

Kenapa perlu sunnah ? Jaga jaga saja. Mana tahu ibadah ibadah wajib berkurang nilai tukarnya sebab digerogoti oleh riya saat sholat, mengungkit ungkit sewaktu membayar zakat, mencaci maki saat romadhon atau niat haji ingin dipuji. Resiko kurang guna membayar tiket pulang.
Jika pemudik naik bis untuk pulang, kita naik kereta kematian menuju kampung halaman. Jika yang meniup peluit keberangkatan bis petugas terminal, kereta kematian diberangkatkan malaikat Izrail. Jika yang memungut tiket bis kondektur, Munkar Nakir adalah kondektur alam kubur.

Apa yang terjadi saat kondektur memungut tiket dan sangu kita kurang ? Paling banter sampean diturunkan dari bis. Namun apa yang terjadi jika di alam kubur sang kondektur Munkar Nakir bertanya “tiket” dan bekal kita kurang ? Palu godam meremukkan sukma sampai kiamat tiba.
Apa yang terjadi saat peluit tanda bis berangkat kita belum siap, kita bisa naik bis lain untuk mudik. Namun apa yang terjadi bila Izrail membunyikan lonceng kematian, tanda kereta maut berangkat dan kita belum siap ? Tak ada kereta lain. Siap atau tidak, diseret berangkat.
Kita gemar menjawab belum siap kala diajak berdiskusi persiapan mati. Kitapun suka membully para sahabat yang mengingatkan ingat mati. Padahal topik ini bukan pesimisme yang kontraproduktif. Justru memotivasi semangat berlipat bekerja untuk sangu hidup sesudah mati.
Kalimat Ali “get ready” itu sangat pas. Kapanpun kudu siap. Mati tak menunggu sakit. Banyak orang sehat wafat. Mati tak mesti tua. Ribuan manusia meninggal di usia muda. Ukuran umur Nabi adalah angka logis dalam perencanaan hidup. Tetap saja Tuhan yang menentukan.

Intinya, di atas atau di bawah angka itu, harus selalu siap. Man plans God decides. Kalkulasi Ali 65 tahun, nyatanya dia meninggal di umur 74 tahun. Seorang ibu melahirkan berharap putrinya tumbu dewasa, nyatanya baru umur 40 hari dipanggil Tuhan. Kalimat Tuhan “demi waktu” dalam surat Al ‘Ashr sejatinya warning. Merujuk fakta lifetime kita memang pendek. Paling panjang 100 tahun. So what ? Banyak yang terlena dunia seolah akan tinggal di sini selamanya. Tetiba kereta berangkat, terperanjat dipaksa malaikat.

Be smart people, dulur. Jadilah manusia cerdas. Miliki tujuan hidup; untuk bertemu Tuhan dalam senyuman Nya. Itulah the ultimate life’s goal. Lalu buatlah planning serinci mungkin. Termasuk timeline nya. Tak perlu muluk muluk dalam hidup. Kalkulasi waktu hidup secara logis.
“Ya Allah, jadikanlah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai kebebasanku dari segala kejahatan”. Pastikan hidup di jalan Tuhan, bermanfaat untuk kemanusiaan. Sampai nama kita terpahat di Walk of Fame trotoar surga.

Related posts

Leave a Comment