Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahilladzi arsyala rasulahu bil hudaa wa dinil haq, liyudhirahu `alaa dini kullihi wa kafaa billahi syahida

Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu annaa muhammadan `abduhu wa rasuluhu

Allahumma sholli `alaa syayyidinaa muhammad wa `alaa ahli muhammad, kamaa shollayta `alaa ibrahim wa `alaa ahli ibrahim

Faa yaa ayyuhannas faa yaa ayyuhal hadirun ittaqullaha haqqa tuqaatihi walaa tamutunnaa illaa wa antum muslimun

Wa qalallahu ta`ala fil qur`anil karimm a`udzubulillahi minas syaithanirrajim, bismillahirrahmanirrahim

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Al ankabut 45

Ma`asyiral muslimin rakhimakumullah

Pertama mari kita panjatkan sebanyak mungkin rasa terimkaasih kita kebersyukuran kita kepada allah swt, atas karunia Nya anugrah Nya yang hingga sampai saat ini dapat kita rasakan, berupa kesehatan keimanan, juga kekuatan sehingga di jum`at kali ini kita masih bisa menghadiri sidang jum`at yang semoga di berkahi allah ini

Kali kedua sholawat serta salam tetap terlimpahkan dari Allah kepada nabi muhammad SAW atas perjuangan belilau dan para pejuang terdahulu lah, yang membuat kita mengenal apa itu Islam, agama yang di ridhoi Allah swt. Semoga kita istiqomah dalam barisan dan golongan orang orang yang masuk islam secara keseluruhan

Seperti halnya dari jum`at ke jum`at tak lupa khotib mengajak diri pribadi dan seluruh hadirin untuk terus semangat dan tidak memilih bosan dalam meningkatkan kadar ketaqwaan ini, utamanya saat kita masih berada dalam moment bulan ramadhan, mari kita manfaatkan moment ini sebagai sumber daya dalam meningkatkan ketaqwaan kita.

Hadirin sidang jama`ah jum`at yang semoga di rahmati oleh Allah

Pada topik khutbah pekan lalu, kita telah sadari di antara bentuk ibadah ada yang mungkin terasa susah dilaksanakan. Menyiasati itu, kita diajarkan untuk mendekat dan meminta pertolongan. Di mana jika Allah memberikan bantuan, apa awalnya tampak berat, akan terasa ringan. Sebaliknya, ibadah yang sebenarnya ringan justru akan terasa berat seperti halnya mendaki langit, jika belum ada pertolongan Allah. Itulah kenapa minimal 17 kali dalam sehari dalam sholat, kita meminta pertolongan dan bantuan Allah.

Hadirin sekalian, dalam topik khutbah kali ini, khotib mengajak mustami’in untuk menggunakan bantuan dan hidayah Allah itu sebagai bibit untuk bertanam bekal akhirat sebanyak mungkin. Mumpung nyawa masih di kandung bandan. Senyampang ramadhan masih menyisakan beberapa hari. Tanaman tadarus, tanaman tarawih, tanaman sedekah, tanaman dakwah, tanaman puasa. Harapannya semua tanaman itu berbuah maghfiroh, barokah, rahmah, mardlotillah dan maqomam mahmudah.

Layaknya seseorang yang bercocok tanam, aktifitas dilaksanakan dengan segenap konsentrasi, keseriusan, ketelitian, kehati hatian dan penuh semangat. Harapan besar mendapatkan hasil berupa buah buahan atau sayur sayuran sesuai apa yang mereka tanam. Tentu semua butuh proses. Dan penanam yang baik akan mengawasi dengan cermat semua proses mulai dari munculnya tunas, batang meninggi, bakal buah sampai matang. Pengawasan dan perawatan sangat penting untuk memastikan hasil panen sesuai harapan penanam.

Seperti itulah kita mestinya beribadah. Banyak muslim yang giat bercocok tanam. Terutama di bulan ramadhan ini. Lahan lahan bertabur jenis tanaman. Bibit tarawih, tadarus, sedekah, puasa, tarbiyah, dakwah dan lainnya. Dengan masa tanam sekitar 30 hari, buah dan sayur berupa taqwa, ridlo, ampunan, barokah, rahma sampai maqomam mahmudah, akan menjadi hasil tanamnya. Semua tentu juga berproses sejak awal romadhon.

Hadirin sekalian,  Jumat ini adalah pekan terakhir dan hari ke 25. Sekitar 5 hari lagi kita panen. Secara teknis tanaman tanaman tersebut harusnya sudah bisa mulai menampakkan tanda tanda hasilnya. Jika belum benar benar matang siap petik, ciri ciri taqwa, ciri hidup berkah, tanda hidup mendapat ampunan dan hati yang rahmah harusnya sudah mulai tampak dalam prilaku kita. Jikapun belum panen penuh, belum hasil 100%, sekurangnya ada proses yang bisa kita amati tanda tandanya.

Tanda tanda taqwa adalah pribadi yang mampu menahan amarah dan memaafkan sesama. Juga gemar dan ringan bersedekah saat lapang maupun sempit. Tanda tanda tarawih (sholat) adalah tercegahnya prilaku fakhsya dan munkar dari diri kita. Tanda hidup berkah adalah hati yang muthma’innah, tenag dan tidak serakah. Tanda tanda buah maghfiroh adalah lapang dan termotivasinya kita dalam melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada Allah dan agama.

Pertanyaannya, sudahkah tanda tanda itu muncul ? Yang paling tahu adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain. Sebab kitalah penanamnya. Tak perlu juga kita mengawasi atau mengomentari tanaman orang lain. Apa pentingnya. Ingat, kepentingan kita mengawasi dan merawat tanaman sendiri. Bagaimana prosesnya, sekuat apa disiplin kita menjaganya dari penyakit, seberapa rajin kita menyiraminya agar tanaman tetap hidup dan subur ?

Khotib percaya dan hsunudhon bahwa mungkin banyak sudah kita tanam bibit bibit kebaikan tersebut, lalu apa yang sudah kita dapat dari bibit yang kita tanam itu? apa hasil dari bibit yang kita tanam itu? membuahkan hasilkah? Belom berbuahkah? Atau justru bibit yang kita tanam mati layu alias berpotensi gagal panen ? Sebab kita yang alpa mengawasi prosesnya. Lupa bahwa tanaman itu membutuhkan perawatan dan pengawasan. Malah sibuk mengawasi tanaman orang lain. Atau kita terlalu percaya diri bahwa tanaman pasti panen, tanpa kita mengawasi dan merawatnya.

Ma`asyiral muslimin rakhimakumullah

Pentingnya kita teliti kembali karena jangan sampai kita melakukan ibadah yang sia sia alias zonk tak membuahkan hasil, karena kurangnya perhatian kita atas apa yang kita lakukan. Sekali lagi perlu diingat, terhitung telah 25 hari kita berpuasa di bulan ramadhan, coba muhasabah, apa yang sudah kita dapat dari puasa 25 hari itu? sekedar lapar haus dan dapat berbuka atau apa? Tujuan puasa adalah agar bertaqwa atau hasil buah dari puasa adalah taqwa, sekarang coba kita tanyakan kepada diri kita masing masing, bagaimana nasib bibit taqwa kita yang kita tanam sejak awal ramadhan lalu. Mulai ada perkembangan, peningkatan, atau sama sekali tak berubah.

Ibadah sholat, tentunya sebagian besar sudah banyak melaksanakannya. Rakaat demi rakaat telah kita lakukan, lalu apa yang kita dapat dari sholat kita selama ini? Dalam muqadimah tadi allah berfirman :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون


Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Ankabut 45)

Dalam ayat itu jelas sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, kita mengakui telah sering melaksanakan sholat, sekarang coba lagi kita tengok ke prilaku kita masing masing, apa yang kita temukan? Sudah menjauhi perbuatan keji dan mungkar buah hasil dari sholat atau masih melakukan perbuatan keji dan mungkar?. Dan tentu banyak ibadah ibadah kita, bibit bibit kebaikan yang perlu kita cek kembali. Apa buah hasil dari semua ibadah yang kita lakukan.

Hadirin sidang jamaah jum`at yang semoga di ridhoi Allah

Harapan kita ketika melakukan ibadah tentu ingin mendapatkan kebaikan ingin mendapatkan hasil dari ibadah tersebut. Lantas jika sekarang yang kita temukan pada tanaman atau bibit yang kita tanam selama ini tak membuahkan hasil terhadap diri kita khususnya, bukankah itu sebuah keruigan bagi kita?. Nah disitu pentingnya Muhasabah diri, dimana kita melakukan evaluasi terhadap diri kita sendiri.

Apa yang sudah kita lakukan kita evaluasi, jika tahun kemarin bulan kemarin hari kemarin kita menanam bibit kebaikan, dan ternyata tak membuahkan hasil, berarti mungkin ada yang salah dari kita, bisa jadi cara menanam atau ketika melakukan perawatan bibit kebaikan tersebut. Ketika hendak berangkat sholat, harap kita agar dipandang sholeh, padahal seharusnya berangkat sholat kita hanya karena semata mata karena Allah swt. Ketika berpuasa harap kita agar segera berbuka, padahal mestinya hanya berharap diterima dan diridloi Allah.

Maka dari itu di jum`at ini khotib mengajak diri pribadi dan hadirin sekalian untuk melakukan Muhasabah diri, sehingga tau apa yang menjadikan bibit kebaikan dan ibadah yang kita tanam selama ini tak membuahkan hasil. Dengan begitu jika sudah tau apa yang menjadi penyebabnya, akar dari masalahnya, kita bisa segera memperbaikinya, dan tidak lagi mendapati ibadah kita yang sia sia di kedepannya.

Mungkin cukup itu khutbah awal pada jum`at kali ini semoga menjadikan kita pribadi yang mau membuka hati untuk melakukan evaluasi muhasabah diri demi keselematan kita nanti.

Wakurrabghfir warham wa anta arhamurrahimin

Hamdillah, hamdan katsiran  kamaa `amr

Asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan `abduhu wa rasuluhu

Allahumma sholli `alaa muhammad wa `alaa ahli muhammad kamaa shollayta `alaa ibrahim wa `alaa ahli ibrahim

Ma`asyiral muslimin sidang jamaah jum`at yang semoga di rahmati oleh Allah SWT

Pada khutbah kedua ini khotib ingin memaparkan dukungan atas khutbah awal, bahwa ibadah kita ayo benar benar di perhatikan kelayakannya. Di situlah letak beda antara orang beriman dan non beriman. Di mana orang beriman dan berilmu tahu dosa dan kekurangan sebelum masuk kubur. Sehingga ada kesempatan perbaikan dan taubat. Sedangkan orang non beriman mengetahui dosa saat sudah dikubur. Sehingga tidak ada kesempatan taubat dan perbaikan, kecuali penyesalan dan sika. Sekali lagi, jangan sampai kita sadar dan kita temukan ibadah kita sia sia ketika sudah di akhirat nanti, karena apa? Karena itu hanya kesadaran yang sia sia pula. Tak bisa memperbaiki, juga tak bisa kembali mengulang semua yang sudah terjadi.

Maka dari itu mari hadirin sekalian untuk bergegas melakukan Muhasabah diri. Dan segera perbaiki juga benahi cara ataupun niat kita ketika sedang menanam bibit kebaikan atau melaksanakan ibadah. Fokuskan semua niat itu hanya semata mata karena Allah ta`ala, bukan karena ikut ikutan juga bukan karena agar di pandang sholeh oleh orang sekitar. Dengan begitu insyalllah atas niat juga cara kita dalam melaksanakan ibadah atau melakukan kebaikan, bisa membuahkan hasil, yang bermanfaat bagi diri kita di Dunia saat ini, dan tentu juga sebagai amal tabungan kita di akhirat nanti, sehingga kita bisa mendapatkan tempat yang baik pula di sisi Allah swt. Mumpung masih sehat dan kuat. Mumpung belum terlambat. Allah masih menyayangi kita. Masih memberi kesempatan. Jadikan peringatan ini sebagai cambuk untuk menjadi penanam yang lebih awas, rajin, disiplin, semangat dan sukses panen ridlo dan ampunan Allah serta maqomam mahmudah di dunia hingga akhirat kita. Insya Allah.

Aamiin

Mungkin cukup itu khutbah pada jum`at kali ini semoga bisa bermanfaat bagi diri kita juga atas izin allah semoga kita dapat membenahi menutupi lubang amal kita dengan Amalan yang baik. Dan mari berdo`a semoga Allah melancarkan mengsukseskan usaha kita dalam melaksanakan ibadah semata mata karena Allah ta`ala.

Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat wal mukminina wa mulkminat al akhya imihum wal amwat innakas samiun qoribuum mujibu da`wat yaa qodi yal hajat

Allahumma mushorrifal quluub shorrif quluubana `alaa tho`atika

Allaahummahdinii fiiman hadait, wa ‘aafinii fiiman ‘aafait, wa tawallanii fiiman tawallait, wa baarik lii fiimaa a’thait, wa qinii syarra maa qadhait, fainnaka taqdhii walaa yuqdhaa ‘alaik, wa innahu laa yadzillu man waalait, wa laa ya’izzu man ‘aadait, tabaarakta rabbanaa wa ta’aalait.

Robbana dholamna an fusana Wairlam tagfirlana Watarghamna lanaku lanna minal ghosirin

Rabbana afrigh `alaina shobron wa tsabbid aqdamanaa wansurna a`laal qaumil kafirin

Rabbanaa hablanaa khukman wa alhikna bissholihin bapak guru muhammad abdullah muchtar

Rabbana atinaa fiddunya khasanah wa fil akhirati khasanah, wa kinaa `adzaabannar

Subhaana rabbikaa rabbil ‘izzati ‘ammaa yashifuun, Wa salaamun ‘alal mursaliin, Wal hamdulillahi rabbil ‘aalamiin

Walaa dzikrullahi akbar wa aqimushollah

Related posts

Leave a Comment