Assalamualaikum wr wb

Alhamdulillahilladzi holaqona minal maa’i basyaron, waj’alahu nasaaban wa syihron, wa kaana robbuka qodiiron.

Asyhadu allaa ilaha illallah huwal haqqul mubin, wa asyhadu anna muhammadarrasulullah sayyidil ambiya’i wal mursalin

Wassholaatu wassalamu ‘ala asrofil ambiyaa’I wa mursaliin, nabiyyuna muhammadiin, wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi wa man tabi’ahu ila yaumiddiin,

Faa yaa ayyuhannas, faa yaa ayyuhal hadirun ittaqullaha haqqa tuqatihi walaa tamutunna illaa wa antum muslimun

Wa qoolallahu ta’ala fil qur’anil kariim, a’udzu bilahi minasy syaithonirrojim bismillahirrahmanirrahim

وَلَوْ اَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ اَنِ اقْتُلُوْۤا اَنْفُسَكُمْ اَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ مَّا فَعَلُوْهُ اِلَّا قَلِيْلٌ مِّنْهُمْ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهٖ لَـكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ وَاَشَدَّ تَثْبِيْتًا ۙ 

An nisa 66

Pertama-tama Mari kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang ada terakhir kita kesempatan kesehatan badan sehingga kita bisa menghadiri sidang jamaah Jumat Semoga dirahmati Allah ini

 KeduA shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam Keluarga dan para sahabat para penerusnya Yang hingga kini masih bertugas di muka bumi ini yang selalu membimbing kita dari jalan  kegelapan Menuju jalan sirotol Mustaqim.

 ketiga khotub pribadi dan mengajak seluruh Hadirin agar giat Taat dan semangat untuk mengecek eksistensi kadar ketakwaan diri. karena apa seorang nilai keislaman ya itu ketika sudah mempunyai jiwa taqwa di dalam dirinya maka dari itu kita harus selalu meningkatkan ketakwaan kita dengan sebenar-benar Taqwa

Hadirin sidang jamaah jum’ah yang semoga di ridhoi allah.

Khotib tadi mengambil moqadimah dari kode surat an nisa ayat 66

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ اَنِ اقْتُلُوْۤا اَنْفُسَكُمْ اَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ مَّا فَعَلُوْهُ اِلَّا قَلِيْلٌ مِّنْهُمْ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِهٖ لَـكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ وَاَشَدَّ تَثْبِيْتًا ۙ 

walau annaa katabnaa ‘alaihim aniqtuluuu anfusakum awikhrujuu min diyaarikum maa fa’aluuhu illaa qoliilum min-hum, walau annahum fa’aluu maa yuu’azhuuna bihii lakaana khoirol lahum wa asyadda tasbiitaa

“Dan sekalipun telah Kami perintahkan kepada mereka, Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu, ternyata mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),”

(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 66)

“Bunuhlah dirimu…”, begitu bunyi potongan ayat 66 surat An Nisa. Sebagian dari kita mungkin terhenyak membaca hal tersebut. Sebuah perintah dari Allah kepada kita manusia untuk membunuh diri. Padahal dalam ayat-Nya yang lain secara tegas melarang bunuh diri. Tidak mungkin ada kontradiksi dalam firman-Nya. Jika demikian apa yang Dia maksud dengan perintah tersebut? Secara praktik, apa yang sesungguhnya Allah ingin kita lakukan dari perintah-Nya itu?

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah

Suatu hari, sebuah armada perang yang diutus Rasulullah kembali dari medan jihad. Gugus tempur itu pulang dengan membawa kemenangan gemilang. Wajah mereka sumringah penuh kelegaan dan kebanggaan. Wajar, karena perang yang baru saja mereka menangi adalah sebuah perang besar melawan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dengan peralatan jauh lebih lengkap dan canggih. Sebuah kemenangan yang layak mendapatkan penghormatan dan meningkatkan kepercayaan diri pasukan.

Rasulullah menyambut mereka dengan haru, “Dengan karunia dan pertolongan Allah, selamat atas kemenangan yang kalian peroleh hari ini”. Seluruh pasukan dan yang hadir hening. “Tapi kalian jangan terlena oleh kemenangan ini. Ini baru permulaan. Karena akan segera datang kepada kalian peperangan yang jauh lebih besar dan jauh lebih berat dari ini”, lanjut Rasulullah. Para sahabat bertanya-tanya dalam hati, perang apa lagi yang lebih besar dari melawan pasukan kafir. “Perang yang paling besar itu adalah perang melawan hawa nafsu!”.

Peristiwa tersebut memberikan gambaran kepada kita apa yang sesungguhnya Allah maksud dalam ayat di atas. Bahwa maksud perintah membunuh diri sendiri adalah perintah untuk memerangi diri sendiri. Perintah untuk memerangi unsur-unsur jahat dalam diri manusia. Di mana dalam setiap diri manusia ada begitu banyak unsur yang mempengaruhi prilaku. Selain unsur positif yang membawa kebaikan diri, ada pula unsur negatif yang membawa kehinaan diri. Unsur terakhir inilah yang mesti kita waspadai dan lawan.

Ma’asyiral muslimin sidang jamaah jum’at yang semoga di berkahi allah s.w.t

Makna membunuh dalam ayat tersebut bukan berarti mematikan. Perang yang dimaksud Rasulullah bukan berarti memusnahkan. Karena nafsu adalah bagian dari integral dari diri kita. Sehingga tidaklah mungkin mematikan hawa nafsu, tidak mungkin pula menghilangkannya dari diri manusia. Yang paling mungkin kita lakukan adalah menaklukkan dan kemudian mengendalikannya. “Wa nahannafsa anil hawa/dan menahan diri dari hawa nafsu..”. Mengendalikan nafsu dengan ajaran Tuhan dan menjaganya agar tidak dikendalikan unsur yang merugikan diri.

Amarah adalah hal lumrah. Setiap diri memiliki dan wajar bila pernah merasakannya. Menjadi tidak wajar bila amarah dibiarkan merejalela menguasai jiwa. Di sini Allah memberi petunjuk bahwa ciri orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mampu menahan amarah. Demikian pula dengan rasa jengkel yang menimbulkan dendam. Perang kita adalah bagaimana mengalahkan rasa jengkel dan merubahnya menjadi kemampuan memaafkan bangsa yang salah.

Hadirin sidang jamaah jum’at yang semoga di ridhoi allah

Dua di antara nafsu yang ada pada diri manusia adalah nafsu bahimah (binatang) dan nafsu syaitoniah (setan). Seseorang yang dipengaruhi unsur bahimah, rela berbagi asalkan dia sudah terpenuhi kebutuhannya. Lihatlah, seekor kerbau bila diberi makan rumput tidak akan mau berbagi dengan temannya sampai dia kenyang. Setelah perut penuh, barulah dia membiarkan makanan itu disantap kerbau lain. Tapi jika unsur syaitoniah yang berkuasa, seseorang tidak akan mau berbagi dengan sesamanya meski telah kenyang dan tercukupi kebutuhannya. Kalaupun ada makanan atau harta lebih dari yang dibutuhkan, mereka simpan dan enggan memberikan pada yang lebih membutuhkan. Mereka berpikir, “untuk cadanganku besok-besok”.

Nafsu bahimah masih lebih baik daripada nafsu syaitoniah. Mau berbagi setelah tercukupi. Toh demikian, kita tidak boleh mengasihani diri dengan membiarkan nafsu kita dikuasai unsur bahimah, apalagi syaitoniah. Kita harus memastikan bahwa unsur robbaniyah-lah yang menjadi pengendali nafsu kita. Rela berbagi dan menolong sesamanya meski diri sendiri belum tercukupi kebutuhannya. Berinfak ketika sempit maupun lapang .

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ 

allaziina yunfiquuna fis-sarrooo`i wadh-dhorrooo`i wal-kaazhimiinal-ghoizho wal-‘aafiina ‘anin-naas, wallohu yuhibbul-muhsiniin

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Bagi nafsu setan tidak ada kata “sudah cukup” atau “cukup kaya”, sehingga jangan menunggu “tercukupi kebutuhan” atau “sudah kaya” baru bersedekah. Berdermalah dengan apapun yang sampean punya.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah

Allah memiliki kenikmatan 100%, di mana yang 1% ditawarkan di dunia untuk dperebutkan binatang, manusia dan semua makhluk. Sedangkan yang 99% ditangguhkan di akhirat bagi hamba-Nya yang tidak ikut berebut dalam 1%. Allah memberi syarat kepada yang menginginkan 99% akhirat, agar tidak melepaskan nafsu dikendarai setan memburu yang 1% di dunia. Kendalikan nafsumu mencari kebutuhan hidup dunia sekedarnya saja. Di luar kebutuhan yang diajarkan Allah, tahan diri, jangan terbawa ambisi.

Jika cukup dengan rumah dari bambu, kenapa harus menuruti nafsu rumah tembok. Jika cukup dengan lantai ubin, kenapa harus dikeramik. Jika cukup makan dengan tempe, ikan asin dan sayuran, kenapa harus daging dan ayam restoran. Jika cukup baju produk lokal untuk tutup aurat, kenapa tergiur pakaian mahal bermerk barat. Jika cukup dengan memanfaatkan transportasi umum, kenapa membutakan hati dengan membeli kendaraan kelas premium. Jika dengan hidup sederhana sudah bisa berbagi dan bahagia, kenapa harus memperbudak diri menumpuk harta agar bisa kaya.

Mungkin cukup itu khutbah awal semoga bisa bermanfaat berfaidah dan bisa menggugah jiwa kita untuk selalu berubah menjadi lebih baik dalam standar allah dan Rasulnya.

WakurrAbghfir warham wa anta arhamurrahimin

Alhamdulillah,  hamdan kastiran kama ‘amr

Asyhadu allah ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu

Allahumma sholli alaa muhammad wa alaa ahli wa shakhbihi wa man tabiahu ilaa yaumiddin

Pada khutbah kedua ini khotib hanya ingin merangkum kesimpulan dari khutbah awal yaitu, hawa nafsu yang ada d dalam diri ini itu harus kita yang mengendalikan jangan biarkan nafsu ini liar d setir setan Apalgi sampai nafsu yang mengendalikan kita. Kendalikan Nafsu ini  dan minta bimbingan pada allah.  Minta petunjuk agar tidak salAh jalur, daN bisa menahan diri dari hawa nafsu yang selalu ingin mengeksploitasi dunia ini.

A’udzubillahi minasyaithanirrajim bismillahirrahmnirrahim

فَاَ مَّا مَنْ طَغٰى 

وَاٰ ثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا 

فَاِ نَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰى 

وَاَ مَّا مَنْ خَا فَ مَقَا مَ رَبِّهٖ وَ نَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰى 

فَاِ نَّ الْجَـنَّةَ هِيَ الْمَأْوٰى ۗ 

“maka adapun orang orng yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka sungguh nerakalah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya. Dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)” Qs. An nazi’at 38-41.

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah

Rasulullah itu mendapatkan bagian seperlima dari setiap rampasan perang yang diperoleh kaum muslimin. Jumlah yang luar biasa besar untuk sekedar membangun istana atau membeli kereta kencana. Tapi kenapa rumah Rasulullah hanya terbuat dari tumpukan batu dan tanah pasir berukuran 4×4 meter dan hanya berkendaraan onta? Karena beliau mengajarkan kepada kita makna “cukup” dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu.

Sebelum jadi Nabi, bersama Khadijah beliau adalah saudagara kaya. Tapi kenapa beliau wafat hanya meninggalkan seekor unta dan baju besi? Itu semua karena beliau memberi contoh bagaimana mengendalikan nafsu untuk tidak merebut kenikmatan 1% dengan cara bersabar menunggu janji Allah 99% di akhirat. Beliau habiskan seluruh hartanya untuk kebutuhan bangsa, negara dan agama. Nafsu ingin meluapkan amarah, kita lawan dengan menahan amarah. Nafsu ingin memendam dendam, berikan maaf, maka hidup akan tentram. Nafsu ingin bebas puas di dunia yang fana, Tuhan menyeru menahan diri untuk bebas puas di akhirat selamanya. Kuasai nafsumu, jangan dikuasai nafsu. Kendalikan nafsumu jangan sampai nafsu mengendalikanmu! Bunuhlah (unsur jahat dalam) dirimu, supaya hidup unsur Tuhan mengendalikanmu!  Bismillah.

mungkin cukup itu khutbah pada siang hari ini semoga apa yang kita fahami pada materi khutbah ini, bisa di ridhoi allah dan menjadi aksi nyata terutama pada di pribadi. Bisa menahan diri menguasai nafsu hati tetap pada Bimbingan ilahi . Mari Berubah Tanpa  kenal lelah, Dan Semangat untuk Bertobat,Mari berdoa agar allah memberikan jalanya kepada hamba yang ingin mendapatkan ridho ny.

Allahummaghfir lil mu’miniina wal mu’minaat, lil muslimiina wal muslimat, al ‘ahyaa’I minhum wal ‘amwaat, innaka qorribun mujiibud da’waat, yaa qoodhiyal haajat..

Robbanaa dholamna anfusanaa wa in lam taghfrilanaa wa tarhamna lanakunanna minal khosyiriin

. Robbanaghfirlnaa dzunuubanaa wa kaffir ‘anna sayyi’aatinaa wa tawaffana ma’al abror, Bapak Guru Muchtar

Allahumma mushorrifal quluub, shorrif quluubanaa ‘alaa thoo’atika.

Allahumma inna nas’aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wal ‘amalalladzzi yubalighunaa hubbaka,

Allahummaj’al hubbaka, ahabba ilaina min nafsinaa wa ahlina wa minal mataa’id dunya…

Robbanaa waj’alna muslimiina laka wa min dzurriyyatinaa ummatan muslimatalaka wa arinaa manaasikanaa, wa tub’alaina innaka anta tawwaburrahiiM

Robbanaa atinaa fiddunnya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzabannaar…

Washollahu ‘ala rasuulillahi muhhamadin wa ‘ala alihi, wa ashaabihi, wa ulamaa’u waratsatul ambiyaa wa taabi’iina ajma’iin. Amin, amin, amin, yaa robbal ‘alamiin…walhamdulillahi robbil ‘alamiiin...

Faladzikrullahi akbar. Wa aqiimushsholah.

Related posts

Leave a Comment